Model Pembelajaran


Model pembelajaran (learning model) adalah metode atau cara yang digunakan untuk menerapkan strategi yang telah dikembangkan dalam bentuk kegiatan nyata untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran (kompetensi) di bidang pendidikan. Strategi tersebut terdiri dari bahan ajar yang berurutan dan dibuat dengan baik secara matang. Pada saat pembelajaran, pendidik akan menggunakan semua fasilitas yang tersedia untuk mendukung proses belajar mengajar.

Model pembelajaran adalah semua rangkaian penyajian materi yang terdiri dari semua faktor mulai dari pra sekolah menengah sampai pasca sekolah yang dilakukan oleh guru sebagai pendidik. Dengan berbagai instrumen yang digunakan secara langsung maupun tidak langsung dalam proses belajar mengajar. Dapat dikatakan bahwa model pembelajaran adalah strategi untuk membuat kurikulum, membimbing guru, dan menyusun materi untuk siswa di dalam kelas. Sehingga siswa dapat belajar lebih efektif dan efisien.

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk didalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum dan lain-lain (Joyce, 1992:4). 

Soekamto, dkk (dalam Nurulwati, 2000:10) mengemukakan maksud dari model pembelajaran ialah, kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan parapengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.

Saat mengerjakan materi tertentu, harus memilih model pembelajaran yang paling sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran perlu ada pertimbangan yang harus diperhatikan, seperti bidang pelajaran, tujuan yang ingin dicapai, dan fasilitas yang ada. Arends (2001:24) menyeleksi enam model pengajaran yang sering dan praktis digunakan guru dalam mengajar, yaitu: presentasi, pengajaran langsung, pengajaran konseptual, pembelajaran kolaboratif, pengajaran berbasis masalah, dan diskusi kelas. 

Ismail (2003) menyatakan istilah Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode tertentu yaitu :

·     Rasional teoritik yang logis disusun oleh perancangnya,

·     Tujuan pembelajaran yang akan dicapai,

·    Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil, dan

·     Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

Juga menurut Kardi & Nur dalam Ngalimun (2016) model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang membedakan dengan strategi, metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut antara lain :

·    Model pembelajaran merupakan rasional teoretik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya

·   Berupa landasan pemikiran mengenai apa dan bagaimana peserta didik akan belajar (memiliki tujuan belajar dan pembelajaran yang ingin dicapai)

·    Tingkah laku pembelajaran yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil dan lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

Sedangkan menurut Hamiyah dan Jauhar (2014) ciri-ciri model pembelajaran adalah sebagai berikut :

·     Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar tertentu.

·     Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu.

·     Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan pembelajaran di kelas.

·     Memiliki perangkat bagian model.

·    Memiliki dampak sebagai akibat penerapan model pembelajaran baik langsung maupun tidak langsung.

 

      Berikut adalah macam-macam model pembelajaran :

1.      Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)

Menurut Tan (dalam Rusman, 2011:229) Pembelajaran Berbasis Masalah kemampuan berpikir siswa betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis. Model pembelajaran ini terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya.

Tujuan model pembelajaran berbasis masalah, yaitu :

-   Membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan pemecahan masalah

-     Belajar peranan orang dewasa yang autentik

-     Menjadi pembelajar yang mandiri.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah, yaitu :

-   Orientasi siswa kepada masalah : guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siwa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih.

-   Mengorganisasikan siswa untuk belajar : guru membantu siswa untuk mendefiniskan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut

-   Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok : guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasana dan pemecahan masalah.

-    Mengembangkan dan menyajikan hasil karya : guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan.

-    Menganilasis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah : guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

2.      Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Sholihatin dan Raharjo (2007: 4) Cooperative Learning merupakan suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur, yang terdiri dari dua orang atau lebih di mana keberhasilan kerjasama sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Dalam metode ini pada proses belajar-mengajar guru tidak lagi mendominasi (guru sebagai motivator dan fisilisator), siswa dituntut untuk berbagi informasi dengan siswa yang lainnya dan saling belajarmengajar sesama mereka (Isjoni, 2010: 17).

Model cooperative learning tidak hanya unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit, tetapi juga sangat berguna untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, dan membantu teman. Dalam cooperative learning, siswa terlibat aktif pada proses pembelajaran sehingga memberikan dampak positif terhadap kualitas interaksi dan komunikasi yang berkualitas, dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya.

Isjoni (2007: 27-28) menyatakan bahwa pada dasarnya cooperative learning dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum Ibrahim,et al. (2000), yaitu:

-    Hasil Belajar Akademik; Dalam cooperative learning meskipun mencangkup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit.

-   Penerimaan terhadap perbedaan individu; Tujuan lain cooperative learning adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuanmya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.

-   Pengembangan ketrampilan social; Tujuan penting ketiga cooperative learning adalah mengajarkan kepada siswa ketrampilan bekerja sama dan kolaborasi. Terdapat beberapa tipe pembelajaran kooperatif, yaitu :

a.       Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw.

Jigsaw menurut Slavin (2010: 237) yaitu dapat digunakan apabila materi yang dipelajari adalah yang berbentuk materi tertulis. Dalam pembelajaran kooperatif tipe jigsaw para siswa bekerja dalam tim yang heterogen, para siswa tersebut diberikan tugas untuk membaca beberapa bab atau unit dan diberikan “lembar ahli” yang dibagi atas topik-topik yang berbeda, yang harus menjadi fokus perhatian masing-masing anggota tim saat mereka membaca. Setelah semua siswa selesai membaca, siswa-siswa yang dari tim yang bereda yang memiliki fokus topik yang sama bertemu dalam “kelompok ahli” untuk mendiskusikan topic mereka. Setelah itu para ahli kembali ke timnya secara bergantian mengajari teman satu timnya mengenai topik mereka.

b.       Pembelajaran Kooperatif tipe CIRC

Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC) atau kooperatif terpadu membaca dan menulis yaitu suatu model pembelajaran menyeluruh dengan cara membaca dan menulis yang melibatkan kerja sama murid dalam suatu kelompok dimana kesuksesan kelompok tergantung pada kesuksesan masing-masing individu dalam kelompok tersebut (Slavin, 2010: 5).

c.       Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Together)

Menurut A’la (2010:100) Numbered Head Together (NHT) adalah suatu metode belajar berkelompok dan setiap siswa diberi nomor kemudian guru memanggil nomor dari siswa secara acak. Numbered Head Together (NHT) memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. NHT ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerjasama mereka. NHT ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik (Lie, A. 2002: 59).

d.      Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match

Menurut Suprijono (2011: 94) Merupakan tipe yang menggunakan kartu. Kartu-kartu tersebut terdiri dari kartu berisi pertanyaanpertanyaan dan kartu-kartu lainnya berisi jawaban dari pertanyaanpertanyaan tersebut.

e.       Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions)

Dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa perlu ditempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerja, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja di kelompok mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai materi tersebut.

f.        Pembelajaran Kooperatif tipe TGT

Secara umum TGT sama saja dengan STAD kecuali satu hal: TGT menggunakan turnamen akademik, dan menggunakan kuis-kuis dan system skor kemajuan individu, dimana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja akademiknya sebelumnya setara seperti mereka.

3.      Metode Pembelajaran berbasis proyek

Pembelajaran berbasis proyek (Project Based-Learning atau PBL) adalah metoda pembelajaran yang  menggunakan proyek/kegiatan sebagai media.  Peserta   didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan  informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Fokus pembelajaran berbasis proyek bertujuan agar peserta didik dalam pembelajaran dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya melalui proses penyelidikan yang terstruktur dan menghasilkan produk dan berbeda dengan pembelajaran tradisional yang umumnya sekadar mendapat teori-teori yang dihafal saja.

Langkah-langkah pembelajaran berbasis proyek menurut The George Lucas Educational Foundation adalah sebagai berikut :

a.       Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question).

Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial. Pertanyaan yang dapat memberi penugasan kepada peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Topik penugasan dikaitkan dengan dunia nyata yang relevan dan bermakna untuk peserta didik, dimulai dengan sebuah investigasi mendalam

b.      Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project)

Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.

c.       Menyusun Jadwal (Create a Schedule)

Guru dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain :

-   membuat timeline (alokasi waktu) untuk menyelesaikan proyek;

-   membuat deadline (batas waktu akhir) penyelesaian proyek;

-   membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru;

-   membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak   berhubungan dengan proyek;

-   meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan)  tentang pemilihan suatu cara.

d.      Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project)

Guru bertanggung jawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain guru berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.

 

e.       Menguji Hasil (Assess the Outcome)

Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya

f.        Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)

Pada akhir pembelajaran, guru dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok.

4.      Model Pembelajaran Pelayanan

Pembelajaran berbasis jasa layanan merupakan salah satu bagian dari strategi pembelajaran kontekstual. Dalam pembelajaran kontekstual, siswa diharapkan mampu memahami makna materi pelajaran yang diajarkan oleh guru, sehingga siswa memiliki ketrampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata berkaitan dengan materi yang diajarkan tersebut. Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelaaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).

Salah satu bentuk nyata dari pembelajaran kontekstual ini dapat kita temui dalam pembelajaran berbasis jasa layanan, yakni menempatkan siswa di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari.

Pembelajaran berbasis jasa layanan merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang mengkombinasikan jasa layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah, guna merefleksikan jasa-layanan tersebut. Jadi menekankan hubungan antara pengalaman jasa-layanan dan pembelajaran akademis. Dengan kata lain, pendekatan ini menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru yang diperlukan dan berbagi keterampilan untuk memenuhi kebutuhan dalam masyarkat melalui proyek/tugas terstruktur dan kegiatan lainnya.

5.      Model pembelajaran Berbasis Kerja (work-based learning)

Banyak definisi yang dikemukakan berkaitan dengan pengertian work-based learning. Beberapa definisi menjelaskan bahwa work-based learning sebagai semua bentuk pembelajaran melalui tempat kerja, apakah berwujud pengalaman kerja (work experience) atau kerja dalam bimbingan (work shadowing) dalam waktu tertentu. Definisi lain menyatakan bahwa WBL adalah semua pembelajaran yang terjadi sebagai hasil aktivitas di tempat kerja (Little, 2006)

Depdiknas (2003:11) mengemukakan bahwa belajar berbasis kerja (work-based learning) adalah suatu strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pembelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali di tempat kerja atau sejenisnya dan berbagai aktivitas dipadukan dengan materi pelajaran untuk kepentingan siswa. Bern dan Erickson (2001:8) dalam Komalasari (Komalasari, 2013) menegaskan bahwa pembelajaran berbasis kerja, atau seperti tempat terka terintegrasi dengan materi di kelas untuk kepentingan para siswa dalam memahami dunia kerja terkait.

6.      Model pembelajaran Konsep (Concept Learning)

Pencapaian konsep merupakan “proses mencari dan mendaftar sifat-sifat yang dapat digunakan untuk membedakan contoh-contoh yang tepat dengan contoh-contoh yang tidak tepat dari berbagai kategori” (Bruner, Goodnow, dan Austin, 1967). Model pembelajaran pencapaian konsep dibangun berkaitan dengan studi berpikir siswa yang dilakukan oleh Bruner, Goodnow, dan Austin (1967). Model pembelajaran pencapaian konsep ini relatif berkaitan erat dengan model pembelajaran induktif. Baik model pembelajaran pencapaian konsep dan model pembelajaran induktif, keduanya didesain untuk menganalisis konsep, mengembangkan konsep, pengajaran konsep dan untuk menolong siswa menjadi lebih efektif dalam mempelajari konsep-konsep.

Model pembelajaran pencapaian konsep merupakan metode yang efisien untuk mempresentasikan informasi yang telah terorganisir dari suatu topik yang luas menjadi topik yang lebih mudah dipahami untuk setiap stadium perkembangan konsep. Model pembelajaran pencapaian konsep ini dapat memberikan suatu cara menyampaikan konsep dan mengklarifikasi konsep-konsep serta melatih siswa menjadi lebih efektif pada pengembangan konsep.

7.      Model pembelajaran Nilai (Value Learning)

Pembelajaran nilai dimaksudkan untuk membantu peserta didik agar memahami,menyadari dan mengalami nilai-nilai serta mampu menempatkannya secara integral dalam kehidupan. Untuk sampai pada tujuan dimaksud, tindakan-tindakan pembelajaran yang mengarah pada perilaku yang baik dan benar perlu diperkenalkan oleh para pendidik.

Pada proses Pembelajaran Nilai, tindakan-tindakan pembelajaran yang lebih spesifik dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang lebih khusus. Seperti dikemukakan oleh Komite APEID (Asia and the pasific programme of educational innovation for development), pembelajaran nilai secara khusus ditujukan untuk:

-            Menerapkan pembentukan nilai kepada anak.

-            Menghasilkan sikap yang mencerminkan nilai-nilai yang diinginkan.

-            Membimbing perilaku yang konsisten dengan nilai-nilai tersebut.

Dengan demikian tujuan Pembelajaran Nilai meliputi tindakan mendidik yang berlangsung mulai dari usaha penyadaran nilai sampai pada perwujudan perilaku-perilaku yang bernilai (UNESCO, 1994).Pembelajaran nilai sebagai ilmu memiliki karakter. Disebut karakter karena melalui Pembelajaran Nilai, kita dapat berfikir kritis, analitik dan selektif terhadap “harga” nilai yang terdapat dalam filsafat dan ilmu pengetahuan. Landasan-landasan filosofis pembelajaran dikaji ulang untuk menemukan hakikat manusia seutuhnya.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MASALAH DALAM BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Kooperatif Learning

QUANTUM TEACHING