MASALAH DALAM BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

 Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses belajarnya. Kondisi tertentu itu data berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berua kelemahan-kelemahan yang dimilikinya dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas.

Dari pengertian masalah belajar di atas, maka jenis-jenis masalah belajar dapat dikelompokkan kepada-murid-murid yang mengalami :

a)     Keterlambatan akademik, yaitu keadaan murid yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tettapi tidak dapat memanfaatkan secara optimal.

b)     Kecepatan dalam belajar, yaitu keadaan murid yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memiliki IQ 130 atau lebih, tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi.

c)      Sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan murid yang memiliki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan Pendidikan atau pengajaran khusus.

d)       Kurang motivasi belajar, yaitu keadaan murid yang kurang bersemangat dalam belajar, mereka seolah-olah tampak jera dan malas.

e)       Bersikap dan kebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi murid yang kegiatan atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik dari pada seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui dan sebagainya.

f)     Sering tidak sekolah, yaitu murid-murid yang sering tidak hadir atau menderita sakit dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga kehilangan sebagian besar kegiatan belajarnya.

 

Faktor penyebab masalah dalam belajar dan pembelajaran dibagi menjadi 2 yaitu :

1.  Faktor Internal

a.      Karakteristik Siswa
Dapat dilihat dari kesediaan siswa untuk mencatat pelajaran, mempersiapkan buku, alat-alat tulis atau hal-hal yang diperlukan.

b.     Sikap terhadap Belajar
Sikap siswa dalam proses belajar, terutama sekali ketika memulai kegiatan belajar merupakan bagian penting untuk diperhatikan karena aktivitas belajar siswa banyak ditentukan oleh sikap siswa ketika akan memulai kegiatan belajar.

c.     Motivasi Belajar
Di dalam aktivitas belajar, motivasi individu dimanfestasikan dalam bentuk ketahanan atau ketekunan dalam belajar, kesungguhan dalam menyimak, mengerjakan tugas dan sebagainya.

d.     Konsentrasi Belajar
Kesulitan berkonsentrasi merupakan indikator adanya masalah belajar yang dihadapi siswa, karena hal itu akan menjadi kendala di dalam mencapai hasil belajar yang diharapkan.

e.     Tingkat Kecerdasan Rendah
Walaupun tingkat kecerdasan seorang siswa bkanlah nilai mutlak dan berubah-ubah, hal ini tetap saja dapat menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan belajar.

f.      Rasa Percaya Diri
Salah satu kondisi psikologis seseorang yang berpengaruh terhadap aktivitas fisik dan mental dalam proses pembelajaran adalah rasa percaya diri.

2.  Faktor Eksternal

a.     Guru
Guru harus mengembangkan strategi pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan informasi, melainkan juga mendorong para siswa untuk belajar secara bebas dalam batas-batas yang ditentukan.

b.    Keluarga
Masalah-masalah dalam keluarga dapat menyita pikiran dan konsentrasi anak untuk fokus dalam belajar

c.     Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial dapat memberi dampak positif dan negatif terhadap siswa. Tidak sedikit siswa yang mengalami peningkatan hasil belajar karena pengaruh teman sebayanya yang mampu memberi motivasi kepadanya untuk belajar.

d.     Kurikulum Sekolah
Kurikulum merupakan panduan yang dijadikan guru sebagai rangka atau acuan untuk mengembangkan proses pembelajaran.

e.      Sarana dan Prasarana
Ketersediaan prasarana dan sarana pembelajaran berdampak pada terciptanya iklim pembelajaran yang kondusif.

Siswa yang belajar di sekolah merupakan akibat dari program pembelajaran guru. Guru berkepentingan untuk mendorong siswa aktif belajar. Dengan demikian sebagai pendidik generasi muda bangsa, berkewajiban mencari dan menemukan masalah-masalah belajar yang dihadapi siswa.

1.    Pengamatan perilaku belajar

Guru selaku pembelajar bertindak membelajarkan, dengan mengajar. Guru selaku pengamat, melakukan pengamatan terhadap perilaku siswa.Dalam pengamatan tersebut guru juga mewawancarai siswa atau teman belajarnya.jadi ada perbedaan peran guru, yaitu peran membelajarkan dan peran mengamat untuk menemukan masalah-masalah belajar. Bila masalah siswa ditemukan, maka sebagai pendidik, guru berusaha membantu memecahkan masalah belajar.

Peran pengamatan perilaku belajar dilakukan sebagai berikut :

a)       Menyusun rencana pengamatan, seperti tindak belajar berkelompok atau belajar sendiri, atau yang lain

b)       Memilih siapa yang akan diamati, meliputi beberapa orang siswa

c)       Menentukan berapa lama berlangsungnya pengamatan, seperti dua, tiga atau empat bulan.

d)       Menentukan hal-hal apa yang akan diamati, seperti cara siswa membaca, cara menggunakan media belajar, prosedur, dan cara proses belajar sesuatu.

e)       Mencatat hal-hal yang diamati

f)        Menafsirkan hasil pengamatan

 

2.    Analisis hasil belajar

Setiap kegiatan belajar akan berakhir dengan hasil belajar. Hasil belajar tiap siswa di kelas terkumpul dalam himpunan hasil belajar kelas.bahan mentah hasil belajar terwujud dalam lembar-lembar jawaban soal ulangan atau ujian, dan yang berwujud karya atau benda.Semua hasil belajar tersebut merupakan bahan yang berharga bagi guru dan siswa.Bagi guru, hasil belajar siswa di kelasnya berguna untuk melakukan perbaikan tindak mengajar dan evaluasi. Bagi siswa, hasil belajar tersebut berguna untuk memperbaiki cara-cara belajar lebih lanjut.Oleh karena itu, pada tempatnya guru mengadakan analisis tentang hasil belajar siswa di kelasnya.

Dalam melakukan analisis hasil belajar, guru melakukan langkah-langkah :

a)      Merencanakan analisis sejak awal semester, sejalan dengan desain intruksional

b)      Merencanakan jenis-jenis pekerjaan siswa yang dipandang sebagai hasil belajar

c)       Merencanakan jenis-jenis ujian dan alat evaluasi; kemudian menganalisis kepantasan jenis ujian dan alat evaluasi tersebut

d)      Mengumpulkan hasil belajar siswa, baik yang berupa jawaban ujian tulis, ujian lisan, dan karya tulis maupun benda

e)      Melakukan analisis secara statistik tentang angka-angka perolehan ujian dan mengategori karya-karya yang tidak bisa diangkakan

f)       Mempertimbangkan hasil pengamatan pada kegiatan belajar siswa

g)      Mempertimbangkan tingkat kesukaran bahan ajar bagi kelas, yang dibandingkan dengan program kurikulum yang berlaku

h)       Memperhatikan kondisi-kondisi ekstern yang berpengaruh atau diduga ada pengaruhnya dalam belajar

i)        Guru juga melancarkan suatu angket evaluasi pembelajaran pada siswa menjelang akhir semester.

 

3.    Tes hasil belajar

Tes hasil belajar adalah alat untuk membelajarkan siswa.Meskipun demikian keseringan penggunaan tes tertentu akan menimbulkan kebiasaan tertentu.Artinya; jenis tes tertentu akan membentuk jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik tertentu.Sebagai illustrasi, uji kemampuan afektif seperti penilaian sikap pada PPKn tidak dapat diuji dengan menggunakan tes obyektif atau dengan memilih isian benar atau salah. Pada tempatnya guru mempertimbangkan dengan seksama kebaikan dan kelemahan jenis tes hasil belajar yang digunakan.

Proses pemecahan kesulitan belajar pada siswa yaitu dimulai dengan memperkirakan kemungkinan bantuan apakah siswa tersebut masih mungkin ditolong untuk mengatasi kesulitannya atau tidak, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan yang dialami oleh siswa tertentu, dan dimana pertolongan itu dapat diberikan. Perlu dianalisis pula siapa yang dapat memberikan pertolongan dan bantuan, bagaimana cara menolong siswa yang efektif, dan siapa saja yang harus dilibatkan dalam proses konseling.

Prayitno (2003) Dalam proses pemberian bantuan, diperlukan bimbingan yang intensif dan berkelanjutan agar siswa dapat mengembangkan diri secara optimal dan menyesuaikan diri terhadap perkembangan pribadinya dan lingkungannya. 

Kemampuan yang harus dimiliki guru/Konselor berkait dengan perannya sebagai seorang konselor, tiap individu konselor harus memiliki kemampuan yang profesional yaitu mampu melakukan langkah-langkah :

1.      Mengumpulkan data tentang siswa

Guru mengumpulkan data siswa melalui buku raport semester peserta didik, dengan melihat raport dan hasil ulangan harian peserta didik, guru bisa tahu apakah peserta didik nilai raport dan hasil ulangan harian dibawah rata-rata, maka peserta didik tersebut memerlukan bimbingan belajar.

2.      Mengamati tingkah laku siswa

Dengan memperhatikan tingkah laku siswa dalam pembelajaran guru bisa menilai  apakah peserta didik tersebut mempunyai masalah belajar yang dilihat dari tingkah laku yang ditandani dengan sering melamun, ngobrol sendiri, kurang aktif bertanya saat pelajaran. Maka hal ini mendorong guru melakukan bimbingan belajar.

3.      Mengenal siswa yang memerlukan bantuan khusus

Guru harus mengenal peserta didik yang mempunyai masalah belajar. Hendaknya guru harus melakukan perhatian lebih kepada peserta didik tersebut. Misal, guru memberikan soal dikelas lalu, guru tersebut menunjuk peserta didik yang mempunyai masalah belajar untuk maju kedepan mengerjakan soal tersebut, lalu guru membimbingnya agar dia bisa.

4.      Mengadakan komunukasi dengan orang tua siswa untuk memperoleh keterangan dalam pendidikan anak.

Komunikasi  ini terjadi pada saat pembagian raport oleh wali kelas kepada orang tua peserta didik. Guru/wali kelas memberitahkan apa-apa masalah yang terjadi pada anak didiknya tersebut. kemudian guru membimbing orang tua untuk turut andil dalam pendidikan anak. Seperti apabila dirumah anak diusahakan untuk rajin belajar dan mengurangi bermain.

5.      Menyelenggarakan bimbingan kelompok ataupun individual

Pelayanan individu adalah salah satu bimbingan atau penyerahan yang diberikan guru kepada peserta didik secara perorangan, pelayanan ini biasanya diberikan pada peserta didik yang mempunyai masalah pribadi.yang berkaitan dengan pembelajaran oleh guru.

Sedangkan, Pelayanan kelompok yaitu suatu pelayanan atau bimbingan yang dilakukan guru secara berkelompok. Bimbingan ini biasa diberikannya diberikan pada peserta didik yang mempunyai masalah secara kelompok dalam masalah pembelajaran apabila sebagian besar siswa tersebut belum paham tentang materi yang sampaikan guru tersebut.

6.      Bekerjasama dengan konselor yang lain dalam menyusun program bimbingan sekolah

Apabila guru belum bisa mengatasi masalah yang ada dalam peserta didik tersebut, maka guru dapat mengalihkan tugasnya ke guru BK.

7.      Meneliti kemajuan siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah 

Setelah melakukan layanan bimbingan belajar guru hendaknya melihat perkembangan yang terjadi  pada peserta didik apabila bimbingan belajar tersebut berhasil, maka peserta didik telah mencapai kriteria-kriteria keberhasilan

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kooperatif Learning

QUANTUM TEACHING