EVALUASI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Davies mengemukakan bahwa evaluasi merupakan proses sederhana memberikan atau menetapkan nilai kepada sejumlah tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk-kerja, proses, orang, objek, dan masih banyak yang lain. Sedangkan Wand dan Brown mengemukakan bahwa evaluasi merupakan suatu proses untukmenentukan nilai dari sesuatu. Pengertian evaluasi lebih dipertegas lagi, dengan batasan sebagai proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan batasan-batasan sebelumnya, dapat kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Berdasarkan batasan-batasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa evaluasi secaar umum dapat diartikan sebagai proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk-kerja, proses, orang, objek, dan yang lain) berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian (Dimyati, 2009:191).
Walaupun tidak semua proses evaluasi melalui pengukuran, seorang calon guru atau guru harus mengetahui tentang pengukuran. Selain itu perlu dipahami pula oleh setiap calon guru atau guru perihal penilaian. Pengukuran lebih menekankan kepada proses penentuan kuantitas sesuatu melalui membandingkan dengan satuan ukuran tertentu (Arikunto dalam Dimyati, 2009:191). Sedangkan penilaian menekankan kepada proses pembuatan keputusan terhadap sesuatu ukuran baik-bauruk yang bersifat kualitatif. Dari batasan pengukuran dan penilaian, dapat ditandai adanya perbedaan yang nyata antara keduanya. Pengukuran dilakukan apabila kegiatan penilaian membutuhkannya, bila kegiatan penilaian tidak membutuhkannya maka kegiatan pengukuran tidak perlu dilakukan. Hasil pengukuran yang bersifat kuantitatif akan diolah dan dibandingkan dengan kriteria, hingga didapatkan hasil penilaian yang bersifat kualitatif (Dimyati, 2009:191).
Proses pendidikan merupakan proses pemanusiaan manusia, dimana di dalamnya terjadi proses membudayakan dan memberadabkan manusia. Agar terbentuk manusia yang berbudaya dan beradab, maka diperlukan transformasi kebudayaan dan peradaban. Transformasi dalam proses pendidikan adalah proses untuk membudayakan dan memberadabkan siswa. Lembaga pendidikan merupakan tempat terjadinya transformasi. Keberhasilan transformasi untuk menghasilkan keluaran seperti yang diharapkan dipengaruhi dan atau ditentukan oleh bekerjanya komponen atau unsur yang ada dalam lembaga pendidikan. Unsur-unsur transformasi dalam proses pendidikan, meliputi:
a. Pendidik dan personal lainnya;
b. Isi pendidikan;
c. Teknik;
d. Sistem evaluasi;
e. Sarana pendidikan, dan
f. Sistem administrasi.
Untuk mengetahui efisiensi dan efektivitas transformasi dalam proses pendidikan perlu dilaksanakan evaluasi terhadap bekerjanya unsur-unsur transformasi. Keluaran dalam proses pendidikan adalah ssiwa yang semakin berbudaya dan beradab sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Untuk mengetahui dan menetapkan apakah siswa telah sesuai dengan tujuan yang ditetapkan lembaga pendidikan atau belum, diperlukan kegiatan evaluasi (Dimyati, 2009:193).
Berikut merupakan syarat - syarat evaluasi pembelajaran yaitu :
Kesahihan atau validitas adalah ketepatan evaluasi mengevaluasi apa yang seharusnya dievaluasi. Kesahihan dapat diterjemahkan pula sebagai kelayakan interpretasi terhadap hasil dari suatu instrumen evaluasi atau tes, dan tidak terhadap instrumen itu sendiri (Gronlund dalam Dimyati, 2009:194). Kesahihan instrumen evaluasi diperoleh melalui hasil pemikiran dan dari hasil pengalaman. Dari dua cara tersebut, diperoleh empat macam kesahihan yang terdiri dari:
a. Validitas ramalan (predictive validity)
Validitas ramalan dapat diartikan sebagai ketepatan dari suatu alat pengukur ditinjau dari kemampuan tes tersebut untuk meramalkan prestasi yang dicapai kemudian.
b. Validitas bandingan (concurrent validity)
Validitas bandingan adalah ketepatan dari suatu tes terlihat dari korelasinya terhadap kecakapan yang telah dimiliki saat ini secara nyata. Apabila validitas ramalan melihat hubungannya dengan masa yang akan datang, validitas bandingan melihat hubungannya dengan masa sekarang.
c. Validitas isi (content validity)
Validitas isi diartikan sebagai ketepatan suatu tes ditinjau dari isi tes tersebut. Suatu tes hasil belajar dikatakan valid menurut validitas isi ini bilamana materi tes tersebut betul-betul dapat mewakili secara menyeluruh (representatif) dari bahan-bahan pelajaran yang diberikan.
d. Validitas konstruk (construct validity)
Validitas konstruk dapat diartikan sebagai ketepatan suatu tes ditinjau dari susunan (konstruksi) tes tersebut. Untuk mengetahui apakah tes yang kita susun memenuhi syarat-syarat validitas konstruk ini, maka kita harus membandingkan susunan tes tersebut dengan syarat-syarat penyusunan tes yang baik.
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kesahihan hasil evaluasi meliputi:
1. Faktor instrumen evaluasi itu sendiri.
2. Faktor-faktor administrasi evaluasi dan penskoran, juga merupakan faktor-faktor yang mempunyai suatu pengaruh yang mengganggu kesahihan interpretasi hasil evaluasi.
3. Faktor-faktor dalam respons-respons siswa.
2. Keterandalan atau Reliabilitas
Keterandalan evaluasi berhubungan dengan masalah kepercayaan, yakni tingkat kepercayaan bahwa suatu instrumen evaluasi mampu memberikan hasil yang tepat (Arikunto, 1990:81). Keterandalan dapat kita artikan sebagai tingkat kepercayaan keajegan hasil evaluasi yang diperoleh dari suatu instrumen evaluasi. Keterandalan berhubungan erat dengan kesahihan, karena keterandalan menyediakan keajegan yang memungkinkan terjadinya kesahihan (Arikunto, 1990:81).
Nurkancana dan Sumartana (Aunurrahman, 2012:218) menjelaskan beberapa cara yang dapat di pergunakan untuk mencari taraf reliabilitas suatu tes, yakni:
a. Teknik Ulangan
Teknik ulangan adalah suatu cara yang ditempuh untuk mencari reliabilitas suatu tes dengan cara memberikan tes tersebut kepada sekelompok anak dalam dua kesempatan yang berlainan.
b. Teknik Bentuk Paralel
Pada teknik bentuk paralel digunakan dua bentuk tes yang sejenis (tetapi tidak identik), baik mengenai isinya, proses mental yang diukur, tingkat kesukaran maupun jumlah item. Kedua tes ini diberikan kepada kelompok subyek yang sama tanpa adanya rentang waktu. Skor yang diperoleh dari kedua tes tersebut selanjutnya dikorelasikan.
c. Teknik Belah Dua
Dalam teknik ini, tes yang telah diberikan kepada kelompok subyek dibelah menjadi dua bagian. Tiap-tiap bagian diberikan skor secara terpisah. Unumnya ada dua prosedur yang dapat dipergunakan untuk membelah dua suatu tes, yaitu:
a. Prosedur ganjil genap, artinya seluruh item yang bernomor ganjil dikumpulkan menjadi satu kelompok, dan seluruh item yang bernomor genap menjadi kelompok lain.
b. Prosedur secara random, misalnya dengan menggunakan undian, atau dengan menggunakan tabel bilangan random.
Korelasi yang diperoleh dari kedua belahan itu menunjukkan reliabilitas tes. Sedangkan Gronlund (Dimyati, 2009:196) mengemukakan adanya empat faktor yang mempengaruhi keterandalan, yaitu sebagai berikut:
1. Panjang tes. Panjang tes berhubungan dengan banyaknya butir tes, pada umumnya lebih banyak butir tes lebih tinggi keterandalan evaluasi.
2. Sebaran skor. Koefisien keterandalan secara langsung dipengaruhi oleh sebaran skor dalam kelompok tercoba. Dengan kata lain, besarnya sebaran skor akan membuat perkiraan keterandalan yang lebih tinggi akan terjadi menjadi kenyataan.
3. Tingkat kesulitan tes. Tes acuan norma yang paling mudah atau paling sukar untuk anggota-anggota kelompok yang mengerjakan, cenderung menghasilkan skor tes keterandalan yang rendah. Ini disebabkan antara hasil tes yang mudah dan yang sulit keduanya dalam satu sebaran skor yang terbatas.
4. Objektivitas. Objektivitas suatu tes menunjukkan kepada tingkat skor kemampuan yang sama (yang dimiliki oleh siswa satu dengan siswa yang lain) memperoleh hasil yang sama dalam mengerjakan tes.
3. Kepraktisan
Dalam memilih tes dan instrumen evaluasi yang lain, kepraktisan merupakan syarat yang tidak dapat diabaikan. Kepraktisan evaluasi terutama dipertimbangkan pada saat memilih tes atau instrumen evaluasi lain yang dipublikasikan oleh suatu lembaga. Kepraktisan evaluasi dapat diartikan sebagai kemudahan-kemudahan yang ada pada instrumen evaluasi baik dalam mempersiapkan, menggunakan, menginterpretasi atau memperoleh hasil, maupun kemudahan dalam menyimpannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepraktisan instrumen evaluasi meliputi:
1. Kemudahan mengadministrasi. Jika instrumen evaluasi diadministrasikan oleh guru atau orang lain dengan kemampuan yang terbatas, kemudian pengadministrasian adalah suatu kualitas penting yang diminta dalam instrumen evaluasi.
2. Waktu yang disediakan untuk melancarkan evaluasi. Kepraktisan dipengaruhi pula oleh faktor waktu yang disediakan untuk melancarkan evaluasi.
3. Kemudian menskor. Secara tradisional, hal yang membosankan dan aspek yang mengganggu dalam melancarkan evaluasi adalah penskoran.
4. Kemudahan interpretasi dan aplikasi. Dalam analisis terakhir, keberhasilan atau kegagalan evaluasi ditentukan oleh penggunaan hasil evaluasi.
5. Tersedianya bentuk instrumen evaluasi yang ekuivalen atau sebanding. Untuk berbagai kegunaan pendidikan, bentuk-bentuk ekuivalen untuk tes yang sama seringkali diperlukan. Instrumen evaluasi yang sebanding adalah instrumen evaluasi yang memiliki kemungkinan dibandingkan makna dari skala skor umum yang dimiliki.
Komentar
Posting Komentar